Jumat, 04 Juni 2010

PERAWATAN JIWA


SINDROM NEUROLEPTIK MALIGNA


Sindrom Neuroleptik Maligna (SNM) adalah suatu sindrom yang terjadi akibat komplikasi serius dari penggunaan obat anti psikotik1. Karekteristik dari SNM adalah hipertermi, rigiditas, disregulasi otonom1 dan perubahan kesadaran2 Morbiditas dan mortalitas pada SNM sering akibat sekunder dari komplikasi kardio pulmo dan ginjal2 .
Frekuensi SNM secara internasional bersamaan dengan penggunaan antipsikotik, khususnya neuroleptik. Di Cina pada suatu RCT didapatkan insidensi SNM mencapai 0,12 % pada pasien dengan terapi neuroleptik. Suatu penelitian retrospektif di India menunjukkan insidensi 0,14%1. Sedangkan di Amerika SNM dilaporkan terdapat pada 0,2% - 1,9% pasien3.
Meskipun neuroleptik (haloperidol, fluphenazin) lebih sering menyebabkan SNM, semua obat anti psikotik, tipikal maupun atipikal dapat menyebabkan sindrom ini. Obat-obatan tersebut adalah prochlorperazine (Compazine), promethazine (Phenergan), clozapine (Clozaril), and risperidone (Risperdal). Selain itu obat-obat non neuroleptik yang dapat memblok dopamin dapat menyebabkan SNM juga, obat-obat tersebut adalah metoclopramide (Reglan), amoxapine (Ascendin), and lithium4.
Deteksi awal dan penegakan diagnosis yang cepat pada SNM penting karena komplikasi dari keadaan ini adalah kematian5. Kematian yang disebabkan oleh SNM mencapai 21%3.

A. Definisi

DSM IV mendefiniskan sebagai gangguan rigiditas otot berat, peningkatan temperatur dan gejala lainnya yang terkait (misalnya diaphoresis, disfagia, inkontinensia, perubahan tingkat kesadaran dari konfusi sampai dengan koma, mutisme, tekanan darah meningkat atau tidak stabil, peningkatan kreatin phosphokinase (CPK) yang berkaitan dengan pengunaan pengobatan neureptik6.
Obat neuroleptik dan obat lainnya yang berpengaruh pada dopamin biasanya dipakai untuk terapi kondisi psikiatri dan non psikiatri seperti skizoprenia, gangguan afek mayor (gangguan depresi, bipolar), delirium, gangguan tingkah laku karena dimensia, nausea, disfungsi usus dan penyakit parkinson7.
Sindrom ini mengakibatkan disfungsi sistem syaraf otonom. Sistem syaraf otonom adalah sistem syaraf yang bertanggung jawab untuk aktivitas tubuh yang tidak dikendalikan secara sadar, seperti denyut jantung, tekanan darah, pencernaan, berkeringat, suhu tubuh dan kesadaran juga terpengaruh8.

B. Etiologi

1.Semua kelas anti psikotik berhubungan dengan SNM termasuk neuroleptik potensi rendah, neuroleptik potensi tinggi dan antipsikotik atipikal. SNM sering pada pasien dengan pengobatan haloperidol dan chlorpromazine1.
2.Penggunaan dosis tinggi antipsikotik (terutama neuroleptic potensi tinggi), antipsikosik aksi cepat dengan dosis dinaikan dan penggunaan antipsikotik injeksi long acting1.
3.Faktor lain berhubungan dengan farmakoterapi. Penggunaan neuroleptic yang tidak konsisten dan penggunaaan obat psikotropik lainnya, terutama lithium, dan juga terapi kejang listrik1.

C. Faktor Resiko

1.Faktor lingkungan dan psikologi yang menjadi predisposisi terhadap SNM adalah kondisi panas dan lembab, agitasi, dehidrasi, kelelahan dan malnutrisi1.
2.Faktor genetik. Terdapat laporan kasus yang mempublikasikan bahwa SNM dapat terjadi pada kembar identik1.
3.Pasien dengan riwayat episode NMS sebelumnya berisiko untuk rekuren. Resiko rekurensi tersebut berhubungan dengan jarak waktu antara episode SNM dan penggunaan antipsikotik. Apabila pasien diberikan anti psikotik dalam 2 minggu episode SNM, 63 % akan rekurensi. Jika lebih dari 2 minggu, persentasenya hanya 30%1.
4.Sindrom otak organik, gangguan mental non skizoprenia, penggunaan lithium, riwayat ECT, penggunaan neuroleptik tidak teratur1 .
5.Penggunaan neuroleptik potensi tinggi, neuroleptik dosis tinggi, dosis neuroleptik di naikan dengan cepat, penggunaan neuroleptik injeksi1

D. Patofisiologi

Sesuai dengan istilahnya, SNM berkaitan dengan pemberian pengobatan neuroleptik. Mekanisme pastinya belum diketahui, tetapi terdapat hipotesis yang menyatakan bahwa defisiensi dopamin atau blokade dopamin yang menyebabkan SNM. Pengurangan aktivitas dopamin di area otak (hipothamalmus, sistem nigrostartial, traktus kortikolimbik) dapat menerangkan terjadinya gejala klinis SNM3.
Pengurangan dopamin di hipothalamus dapat menyebabkan terjadinya peningkatan set point sehingga terjadi demam dan juga dapat menyebabkan ketidak stabilan otonom1. Di sistem nigrostratial dapat menyebabkan rigiditas, di sistem traktus kortiko limbik dapat menyebabkan perubahan kesadaran3 perubahan status mental disebabkan karena blokade reseptor dopamin di sistem nigrostartial dan mesokortikal9.

E. Gambaran Klinis

Sindrom neuroleptik maligna merupakan reaksi idiosinkratik yang tidak tergantung pada kadar awali obat dalam darah. Sindrom tersebut dapat terjadi pada dosis tunggal neuroleptik (phenotiazine, thioxanthene, atau neuroleptikal atipikal), biasanya berkembang dalam 4 minggu pertama setelah dimulainya pengobatan dengan neuroleptik. SNM sebagian besar berkembang dalam 24-72 jam setelah pemberian obat neuroleptik atau perubahan dosis (biasanya karena peningkatan)7. Sindroma neuroleptik maligna dapat menunjukkan gambaran klinis yang luas dari ringan sampai dengan berat9. Gejala disregulasi otonom mencakup demam, diaphoresis, tachipnea, takikardi dan tekanan darah meningkat atau labil..
Gejala ekstrapiramidal meliputi rigiditas, disfagia, tremor pada waktu tidur, distonia dan diskinesia. Tremor dan aktivitas motorik berlebihan dapat mencerminkan agitasi psikomotorik1.
Konfusi, koma, mutisme, inkotinensia dan delirium mencerminkan terjadinya perubahan tingkat kesadaran1.
F. Pemeriksaan Laboratorium
Rigiditas dan hipertermi pada SNM disebabkan karena kerusakan otot dan nekrosis. Kerusakan otot dan nekrosis ini dapat menyebabkan:
1.Peningkatan kadar Creatin Kinase (CK) darah mencapai 2000 – 15.000 U/ L Pengingkatan kadar CK ini tingkat sensitifitasnya tinggi untuk SNM3.
2.Peningkatan Aminotransferases (aspartate aminotransferase [AST], alanine aminotransferase [ALT]), and lactate dehydrogenase (LDH )1
3.Pemeriksaan laboratorium lain terdapat leukositosis (15. 000 – 30.000 x 103/ mm3), trombositosis dan dehidrasi. Protein serebrospinal dapat meningkat. Konsentrasi serum besi dapat menurun1.

G. Diagnosis
Konsensus untuk diagnosis sindrom neuroleptik maligna tidak ada. Salah satu kriteria berasal dari DSM IV-TR. Kriteria tersebut mencakup hiperpireksia dan rigiditas otot, dengan satu atau lebih tanda-tanda penting seperti ketidak stabilan otonom, perubahan sensorik, peningkatan kadar CK dan myoglobinuria10.
Berdasarkan gejala klinis tersebut, SNM seharusnya menjadi diagnosis banding pada pasien demam dengan pengobatan neuroleptik. Sebelum diagnosis SNM ditegakkan, semua kemungkinan penyebab kenaikan suhu harus disingkirkan, dan demam harus disertai dengan gejala klinis lain seperti rigiditas otot, perubahan status mental dan ketidak stabilan otonom10 .
Kriteria diagnosis menurut DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders).

Memenuhi kriteria A dua-duanya dan kriteria B minimal 2
 Kriteria A
1.Rigiditas otot
2.Demam

 Kriteria B
1.Diaphoresis
2.Disfagia
3.Tremor
4.Inkontinensia
5.Perubahan kesadaran
6.Mutisme
7.Takikardi
8.Tekanan darah meningkat atau labil
9.Leukositosis
10.Hasil laboratorium menunjukkan cedera otot

 Kriteria C
Tidak ada penyebab lain (Misal: encephalitis virus)

 Kriteria D
Tidak ada gangguan mental
Diagnosis banding dari SNM sangat luas. Hal terpenting sumber infeksi dari demam harus di singkirkan. Pungsi lumbal harus dipertimbangkan untuk membedakan SNM dengan encephalitis virus atau encephalomyelitis post infeksi10.
SNM harus dibedakan dari sindrom yang disebabkan oleh pengobatan lain seperti sindrom serotonin dan hipertermi maligna10.

H. Diagnosis Banding
1.Heat stroke
Pada heat stroke kulit menjadi kering dan lembek akibat hipertermi dan hipotensi.
2.Letal kataton
Letal kataton terjadi pada orang skizoprenia atau episode manik. Neuroleptik dapat memperbaiki atau memperburuk gejalanya. Membedakan SNM dan letal kataton sulit, meskipun riwayat pasien menyatakan episode kataton pada saat pasien tidak meminum neuroleptik. Letal kataton cenderung eksitasi dan agitasi pada prodormal sedangkan SNM dimulai dengan rigiditas1
3.Sindrom serotonin
Sindrom serotonin sangat mirip SNM. Untuk membedakannya dengan menggali riwayat pengobatan dengan perhatian pada perubahan dosis dan tidak adanya rigiditas ber
I. Penatalaksanaan
1. Terapi suportif
Penatalaksaan yang paling penting adalah menghentikan semua anti psikotik dan terapi suportif. Pada sebagian besar kasus, gejala akan mereda dalam 1-2 minggu. SNM yang dipercepat dengan depot injeksi anti psikotik long action dapat bertahan selama sebulan1
Terapi suportif bertujuan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dan memelihara fungsi organ yaitu:
 Manajemen jalan nafas: intubasi, oksigenasi adekuat, oxymetri1.
 Manajemen sirkulasi: monitoring jantung, resulsitasi cairan, hemodinamik1.
 Untuk mengendalikan temperatur dapat dengan antipiretik1
Skrening infeksi dengan cara melakukan CT scan kepala, thorak, analisis cairan serebrospinal, kultur urin dan darah9.
2. Terapi farmakologik
Terapi farmakologik masih dalam perdebatan. Agonis dopamin seperti bromocriptin dan amantadin diperkirakan berguna untuk mengobati SNM berdasarkan hipotesis defisiensi dopamin. Dantrolene dipakai untuk mengurangi rigiditas otot, metabolisme dan peningkatan panas. Beberapa ahli melaporkan bahwa agonis dopamin, clantralene maupun kombinasi keduanya dapat mengurangi mortalitas atau memperpendek durasi sakit. Peneliti lain melaporkan tidak ada manfaat dan setelah diamati ternyata meningkatkan komplikasi dan pemanjangan gejala karena pemakaian obat-obat tersebut3.
arif_soeprijono@rocketmail.com
Terapi tunggal dengan benzodiazepin dilaporkan berhasil dalam beberapa kasus. Penelitian Francis et all menyatakan benzodiazepin efektif dalam penanganan SNM dengan mengurangi durasi menjadi 2 – 3 hari3
J. Komplikasi
Komplikasi dari sindroma neuroleptik maligna banyak. Komplikasi yang paling umum adalah rhabdomiolisis sebagai akibat dari rigiditas otot terus menuerus dan akhirnya terjadi kerusakan otot9.
Komplikasi lainnya gagal ginjal, pneumonia aspirasi, emboli pulmo, edema pulmo, sindrom distress respirasi, sepsis, diseminated intravascular coagulation, seizure, infark miocardial9.
Menghindari antipsikotik dapat menyebabkan komplikasi karena psikotik yang tidak terkontrol. Sebagian besar pasien dengan pengobatan anti psikotik karena menderita gangguan psikiatri berat atau persiten, kemungkinan relaps tinggi jika anti pskotik di hentikan.
K. Prognosis
1.Mortalitas sekitar 10-20%, sebagian besar pada pasien dengan nekrosis berat otot yang menjadi rhabdomyuolisis1.
2.Pasien dengan riwayat SNM dapat terjadi rekurensi. Resiko terjadi rekurensi berhubungan dengan jeda waktu antara SNM dan dimulainya kembali pengobatan antipsikotik1.
L. Pencegahan
Pencegahan merupakan bagian penting dalam memanage kondisi heterogen ini. Dosis terendah neuroleptik dianjukan, dengan memonitor onset efek samping ekstra piramida Deteksi awal dan memberikan terapi untuk mengeliminasi efek samping ekstra piramidal, terutama rigiditas otot dapat mencegah perkembangan lebih lanjut SNM dan komplikasinya6.
DAFTAR PUSTAKA

1.Sholevar, DP., 2002, Neuroleptic Malignanat Syndrome, http://www.emedicine.com
2.Khan,
3.Khaldarov, V, 2000, Benzodiazepines for Treatment of Neuroleptic Malignant Syndrome, Hospital Physician.
4.Benzer, Theodore, 2005, Neuroleptic Malignanat Syndrome, http://www.emedicine.com
5.Ong
6.Kaplan
7.Hal, RCW., Chopman, M., 2006, Neuroleptic Malignant Syndrome in the Elderly: Diagnostic Criteria, Incidence, Risk Factors, Pathophysiology, and Treatment, Clinical geriatry Vol 14 No. 5, John Hopskins Medicine.
8.Answer.com
9.Bottoni, T., 2002, Neuroleptic Malignant Syndrome: A Brief Review, http:://www.turner-white.com
10.Nicholson, D., Chiu., W., 2004, Neuroleptic malignant syndromem, Geriatrics August 2004 Volume 59, Number 8

Selasa, 18 Mei 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN   DENGAN TRANSPLANTATION REJECTION  

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG
Saat ini lagi ramai membicarakan tentang transplantasi, donor organ dan penjualan organ di media televisi dan media cetak. Apalagi hal ini terkait dengan kasus Bilqis kasus seorang anak yang mengalami atresia bilier. Ada beberapa orang awam yang mau donorkan hatinya untuk ditransplantasikan ke anak ini. Satu lagi seorang “Raja” Surat kabar dari Jawa timur, Dahlan Iskan yang sempat melakukan tranplantasi di Ghuang Zhou, Cina dan berita yang paling hangat adalah kasus Anak Ramdan yang di kerjakan di Rs.Dr. Soetomo Surabaya yang pada post operasi terjadi penolakan terhadap organ yang di cangkokkan atau yang biasa disebut “ Transplantation Rejection “.Berdasarkan kasus ini terpetik hati nurani untuk memberikan sedikit gambaran tentang transplantasi kepada para sejawat perawat terutama pada kasus penolakan organ transplantasi. Apa dan bagaimana hal ini bisa terjadi, dan akan kami cuplikkan sedikit tentang segi “Aspek Legal Transplantasi Organ” kenapa demikian ???? Karena di luar negeri khususnya di negara Eropa dan dataran Cina yang melegalkan Transplantasi tanpa indikasi medis yang jelas, dan merupakan lahan “Bisnis” yang sangat menjanjikan hal ini banyak di perankan oleh sindikat-sindikat internasional perdagangan organ ilegal.(Koran Tempo,2003)
Selain di negara-negara maju dengan nilai pendapatan negara perkapita cukup tinggi, penjualan organ manusia secara ilegal juga dilakukan oleh negara miskin yang tentunya hal ini dilakukan dengan alasan uang. Bahkan di negara India dengan dengan terang-terangan para mafia organ mengiklankan di beberapa harian surat kabar di Bombay, mencari pendonor organ yang tentunya dengan imbalan uang cukup besar. ( India Broad News,2001 , Bombay News, 2003).
Inilah salah satu efek negatif dari ilmu pengetahuan, ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi bermanfaat bagi orang lain (Indikasi Medis) di sisi yang lain sangat merugikan ( pengambilan organ orang  lain dengan imbalan sesuatu).


Perlu kita ketahui, bahwa transplantasi / cankok organ tidak semudah kita menepatkan salah satu suku cadang mobil yang setelah di pasang di bengkel kemudian langsung jalan enak, atau Transplantasi tidak semudah dalam komputer : cut dan paste di tempat organ yang digantikan. Contoh seperti ginjal A di donorkan ke B yang rusak ginjal, kemudian dilakukan operasi transplantasi. Setelah itu B sehat kembali. Namun dalam bayangan orang awam kesehatan akan seperti itu, tidak untuk dunia medis/kesehatan. Kami heran dengan sinetron yang membawa penyesatan opini publik yang mana dengan mudahnya seorang A tanpa riwayat keluarga dan hubungan darah yang erat mendonorkan ginjalnya pada B yang jelas-jelas orang lain. Orang menyangka ini mirip dengan sistem golongan darah, apabila dia golongan darah AB pasti bisa menerima golongan darah AB juga. Untuk organ tubuh padat tidak demikian. Inilah yang akan dibahas dalam makalah ini secara jelas dan lengkap.
1.2. TUJUAN
1.2.1. Tujuan Umum
a. Mengubah paradikma dan opini publik  bahwa transplantasi organ tidak semudah yang di lihat di media televisi ( sinetron ).
b. Memberikan penjelasan kepada publik tentang aspek legal etik dan dasar hukumnya transplantasi organ.
c. Memberikan edukasi resipien tentang donor hidup dan jenazah
1.2.2. Tujuan Khusus
a. Perawat mampu dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien transplantation rejection.
b. Perawat mampu menjelaskan imunohematologi dan transplantasi organ.
c. Perawat mampu menjelaskan aspek etik dan hukum/legal tranplantasi pada calon pendonor.
d. Perawat tahu mekanisme reaksi dan komplikasi transplantasi organ.         
e. Perawat tahap – tahap dari transplantasi rejection.
f. Perawat tahu macam-macam obat imunosupresan, fungsi dan side efek.
g. Perawat tahu macam-macam terminologi dalam transplantasi.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. SEJARAH TRANSPLANTASI

Transplantasi ( lat. = transplantare, transplantasi =  menempatkan ') adalah transplantasi bahan organik dalam pengobatan.
 Transplantasi adalah memindahkan alat atau jaringan tubuh dari satu orang ke orang lain atau prosedur dimana sel, jaringan, atau organ dari donor ditransfer ke penerima. Ini adalah pengobatan alternatif untuk berbagai kondisi fatal. (Baratawidjaja, 2006).
Teknik-teknik dasar yang diperlukan untuk transplantasi yang dipahami dan dikembangkan sejak pergantian abad. Pada awal 1900-an, seorang ahli bedah Wina mencoba pemindahan organ pertama dan reinsertion dalam prosedur yang melibatkan cangkok ginjal hewan autologus. Kesuksesannya membuatnya menyelidiki lebih lanjut kemungkinan transplantasi. Dia gagal karena fakta bahwa ia melintasi batas spesies sadar fatal menyebabkan penolakan graft dan segera. Kegagalan awal ini berdampak pada pengerdilan kemajuan transplantasi selama 1920-an dan 1930-an. Namun, di tahun 1940-an, PB Medawar diakui bahwa cangkokan kulit autologus diterima, sedangkan yang diberikan dari satu relatif yang lain ditolak. Penemuan ini membuatnya menyarankan bahwa ada respon imunologi. Hambatan ini harus diatasi untuk transplantasi cangkok allogeneic sukses. Dia benar hipotesis bahwa sistem kekebalan tubuh manusia, yang dirancang untuk menyerang benda asing, dapat menentukan bahwa graft non-diri, dan karena itu menetapkan mekanisme efektor untuk akhirnya menolak gratifikasi tersebut. Penemuan-penemuan ini menyebabkan minat baru dalam transplantasi dan menghasut upaya transplantasi sukses. Pada 1954, Dr Joseph E. Murray, yang menerima Penghargaan Nobel untuk Kedokteran pada tahun 1990, mencapai sukses transplantasi ginjal pertama antara kembar identik di Boston. Pada tahun 1967, ahli bedah jantung Afrika Selatan bernama Kristen Barnard melakukan transplantasi jantung manusia
4
pertama di Rumah Sakit Groote Schur di Cape Town. Beberapa para ahli yang telah berhasil melakukan transplantasi dari beberapa negara dan organ, a.l :
1954: Dr Joseph Murray melakukan transplantasi ginjal pertama yang berhasil anta ra hidup, kembar identik dalam Boston, Massachusetts.
1967: Dr Thomas Starzl melakukan transplantasi hati pertama yang berhasil di Den ver,Colorado.
1968: Dr Norman Shumway melakukan transplantasi jantung pertama yang ber hasil di Amerika Serikat di Stanford University Hospital di California.
1981: Dr Bruce Reitz berhasil melakukan pertama-paru transplantasi jantung di Stan fordUniversitydiCalifornia.
1983: Dr Joel Cooper melakukan satu paru-paru transplantasi pertama yang berhasil di Toronto General Hospital di Toronto, Kanada.
1986: Dr Joel Cooper melakukan transplantasi paru-paru ganda pertama yang berha sil di Toronto Umum Hosptial di Toronto, Kanada.
1989: Dr Christoph Broelsch dilakukan terkait yang hidup sukses transplantasi hati pertama di University of Chicago di Amerika Serikat.
1990: Dr Vaughn Starnes melakukan hidup terkait paru transplantasi pertama yang sukses di Stanford University Medical Center di California
.
Transplantasi telah menjadi terapi pilihan bagi banyak pasien yang men derita kegagalan organ atau komplikasi yang timbul dari penyakit organ terten tu. Pilihan pengobatan ini telah membuat kemajuan yang cepat. Beberapa faktor kon tribusi terhadap perbaikan. Ini termasuk keberhasilan peningkatan terapi obat yang digunakan untuk mengobati dan mencegah penolakan organ, kemajuan teknis di operasi, metode uji diagnostik untuk memonitor pasien, pengujian histokompatibili tas ditingkatkan, dan peningkatan dalam prosedur pengadaan organ. Lebih awal dan lebih akurat mendeteksi penolakan serta pemahaman yang lebih komprehensif dari sistem kekebalan tubuh juga memainkan peran dalam meningkatkan kelangsungan hidup pasien
2.2. Jenis Transplantasi dan Indikasinya
Transplantasi adalah diklasifikasikan menurut asal, lokasi, dan fungsi dari gratifikasi tersebut :
F Autologus transplantasi atau autogenous: donor dan penerima   adalah orang yang sama, transplantasi ini disebut ini mobil plastik. Banyak

transplantasi autologus di bidang bedah plastik yang terletak. Tetapi juga, misalnya, meringankan arteri koroner melalui kaki sendiri tubuh atau arteri lengan (bypass arteri koroner ) adalah salah satu di atas.
F Isogenic transplantasi atau syngeneic: donor adalah identik kembar , yaitu, donor dan penerima secara genetik identik. Oleh karena itu, dalam syngeneic,seperti yang dijelaskan di atas untuk transplantasi  autologus dengan administrasi immu nosuppressants dihilangkan (efek samping obat ini cukup).
F Transplantasi allogeneic : donor adalah sama jenis dari. Nama Lama: transplan tasi homogen. Lihat juga: sumbangan hidup .
F Transplantasi xenogeneic : donor termasuk tipe yang berbeda (misalnya,katup jantung babi). NamaLama: atau  heterolog  transplan tasi heterogen.
F  Transplantasi alloplastic: di sini merupakan bahan buatan, jadi satu implan , tubuh ditempatkan masuk Karena ini bukan merupakan bahan organik, transplantasi alloplastic disebabkan oleh definisi yang diberikan dalam pengantar Transpaltationen tidak lagi tepat.
Indikasi untuk Transpalansi :
              ¯ Kronis insufisiensi ginjal : transplantasi ginjal
              ¯ Tahap Akhir Penyakit jantung koroner , bentuk Penyakit otot jantung (kardiomiopati ): Heart transplantasi
              ¯ Eisenmenger reaksi : Hati-paru transplantasi
              ¯ Sirosis hati : transplantasi hati
              ¯ Cystic fibrosis : paru-paru transplantasi
              ¯ Leukemia : sumsum tulang atau transplantasi sel induk
              ¯ Diabetes mellitus : pankreas atau transplantasi sel islet (allogeneic, orthoto pic, auxillär)
              ¯ PPOK : paru-paru transplantasi (allogeneic, orthotopic, substitusi)
              ¯ Kanker kandung kemih : urostoma (autologus, heterotopic, pengganti-auxillär)
              ¯ Kanker Payudara : Rekonstruksi Payudara

              ¯ Operasi plastik : malformasi telinga , rambut , rekonstruksi tengkorak
              ¯ Penyakit dan cedera dari kornea : kornea
              ¯ Sex penugasan operasi , testis kaki palsu
              ¯ Penggantian artikular en: Endoprosthesis
              ¯ Kecelakaan dengan amputasi, untuk transplantasi contoh dari  lengan  Per tama di dunia transplantasi dua lengan - Klinikum Rechts der Isar, 25 Juli 2008
Sebuah indikasi yang baik dari keberhasilan transplantasi selama beberapa dekade terakhir ini adalah perbaikan dari waktu ke waktu di tahun kelangsungan hidup pasien-tingkat satu. Sebuah akibat langsung dari teknik-teknik yang lebih baik dan lebih tinggi tingkat keberhasilan adalah peningkatan jumlah
transplantasi yang dilakukan di Amerika Serikat setiap tahunnya. Masalah utama, seperti yang dinyatakan sebelumnya, adalah dibatasi oleh ketersediaan organ.

2.3. Teknik Jaringan, Kloning, dan Penelitian Sel Induk ( JARINGAN REKAYASA )

Jaringan Rekayasa memiliki beberapa aplikasi sebagai terapi substitusi untuk transplantasi organ. Generasi pertama dari teknik jaringan adalah penciptaan perangkat immunoisolated yang menggabungkan sel-sel hidup dan biomaterial. Teknik ini menggunakan membran hidrogel sebagai penghalang dari sel-sel hidup asing dari limfosit dari tuan rumah imunokompeten. Hal ini secara efektif menghilangkan kebutuhan untuk terapi imunosupresif. Produk Potensi bioartificial ginjal, hati, dan pancreases.
Pendekatan ini memiliki kemungkinan sangat realistis untuk pe rangkat medis dan perawatan. Bahkan, Tipe I Diabetes telah disembuhkan pada tikus. encapsulated mensekresi insulin sel beta ditempatkan pada tikus diabetes untuk mengatur gula darah. Sel mampu secara efektif meniru aktivitas sel beta
asli pada tikus sambil menghindari deteksi imun dan penolakan. Namun, semua usaha-usaha tanggal untuk menerapkan model yang sukses untuk hewan yang lebih besar telah gagal karena masalah scaling.
Masa depan produk teknik jaringan adalah dengan munculnya sel-sel batang dan kloning terapeutik. Teknologi panen pluripotent sel induk embrionik sejak massa sel bagian dalam blastokista memperkenalkan berpotensi menghasilkan semua jenis sel Menggu nakan isyarat tepat untuk diferensiasi. Teknik ini akan memungkinkan para ahli biologi untuk tumbuh jaringan fungsional atau organ. Kebutuhan imunosupresi untuk teknik ini dapat dielakkan melalui kloning terapeutik. Ini adalah proses di mana sel-sel induk auto logus digunakan untuk insinyur jaringan organ untuk transplantasi. Organ akan secara bawaan "diri" organ, dengan diri-antigen. Sejalan dengan itu, sistem kekebalan tubuh tidak memiliki insentif untuk menyerang gratifikasi tersebut. Kelemahan terapi ini terma suk masalah manufaktur: karena setiap organ harus diciptakan khusus untuk masing-masing individu, akan ada ruang waktu antara identifikasi kebutuhan transplantasi, dan produksi dari fungsional autograft sepenuhnya,masalah lainnya termasuk isu-isu seputar etika penelitian sel induk. Meskipun kontribusi besar sel-sel induk embrionik bisa mem berikan obat untuk transplantasi organ, ada ba nyak titik kontroversi. Sebuah titik menge lilingi perdebatan ide ketika embrio mencapai status individu. Sebagian besar ahli bio logi percaya bahwa individualisasi embrio terjadi pada pembentukan streak primitif "." Ini adalah titik di mana embrio berkembang sangat awal dari sebuah sistem saraf, dan keduanya kembar dan rekombinasi tidak lagi mung kin. individu lain, dipimpin terutama oleh kelompok-kelompok keagamaan, berpendapat bahwa individualitas dan "kemanu siaan" diperoleh pada saat pembuahan, dan bahwa jiwa yang ada secepat sperma menem bus sel telur. Kontroversi pada masalah ini tidak mengejutkan, mengingat bahwa banyak masalah paralel yang dikenakan isu politik aborsi.
Saat ini, sel-sel induk embrionik manusia yang sangat diatur oleh pemerintah dan dilihat oleh banyak orang sebagai menjijikkan etis. Sebuah usaha untuk menghindari menggunakan sel induk embrionik termasuk menggunakan etis tidak rumit sel induk dewasa yang memiliki kemampuan untuk transdifferentiate di

garis keturunan jenis sel (dibuktikan dengan Verfaille pada tahun 2000). Pra-studi klinis pada terapi sel induk dewasa berdasarkan telah konsisten, dengan banyak menghasilkan hasil bertentangan. Hasil studi yang diduga beberapa sukses tidak bisa diulang andal. Sebagai contoh, kita gunakan Orlic yang diturunkan dari sum sum dewasa sel-sel induk untuk menumbuhkan sejumlah besar (60%) dari jaringan nekrotik dalam zona infarcted murin jantung serius dipertanyakan ketika dua kelom pok terkemuka lainnya tidak dapat untuk menduplikasi hasil. 
Meskipun masalah, penting untuk dicatat bahwa teknik jaringan sebenarnya terapi berkembang. Teknik jaringan menjanjikan banyak, dan dengan waktu, uang, dan penelitian, dalam masalah awal yang dihadapi saat ini hampir pasti akan berhasil. Jika berhasil, teknik jaringan secara dinamis akan mengubah bidang transplantasi organ.
2.4. XENOTRANSPLANTATION
Seperti disebutkan, penghalang utama keberhasilan transplantasi organ adalah ketidaksesuaian antara penawaran dan permintaan untuk organ donor, dengan penawaran jauh melebihi permintaan. Xenotransplantation adalah terapi yang menjanjikan yang dapat memecahkan masalah sumber dari transplantasi organ. Dengan perkembangan terbaru dari transgenik dan knock out klon hewan rekayasa genetika, teknologi ini telah menjadi tujuan realistis yang memiliki potensi untuk benar-benar merevolusi terapi transplantasi dan mungkin menghilangkan kebutuhan untuk perawatan immunosuppressant. 
Xenotransplantation adalah penggantian yang rusak organ individu dengan panen organ dari spesies lain. Kemungkinan hewan dianggap sebagai sumber organ bagi manusia termasuk primata (karena kesamaan genetik mereka untuk manusia) dan babi (karena ketersediaan besar mereka). Karena masalah logistik dalam meningkatkan primata (termasuk waktu yang diperlukan untuk melipatgandakan dan mencapai jatuh tempo), fokus pada sumber babi saat ini mendominasi. Bahkan, sebuah transgenik, knock out babi merupakan sumber potensial xenotransplants ideal. Babi adalah calon model karena ukurannya yang

sebanding-organ manusia, sampah yang besar, dan kehamilan Pharms cepat. Pig (istilah untuk fasilitas pembibitan babi tersebut) berpotensi bisa berkembang biak dan meningkatkan babi steril dalam lingkungan yang terkendali yang keduanya gratis patogen spesifik dan beban bakteri yang dikenal. Jadi, Pig Pharms memiliki potensi untuk mengatasi masalah organ-sourcing.
Untuk menjadi solusi sukses untuk transplantasi organ, xenotransplan tation kebutuhan untuk mengatasi beberapa hambatan biologis. Masalah utama adalah jelas, tetapi tangguh: perbedaan spesies berkorelasi dengan tingkat lebih tinggi perbedaan antigen. Dengan kata lain, ada yang lebih signifikan untuk sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan menolak. Salah satu antigen masalah tersebut adalah karbohidrat yang diekspresikan pada permukaan sel hewan banyak: alpha-gal. antigen ini dianggap sebagai penyebab utama di balik penolakan dan akut vas kular humoral hiperakut diamati di xenotransplantation. Jika xenotransplantation harus diterima secara klinis, reaksi terhadap xenoantigens tersebut harus tertahan.
Daerah penelitian saat ini berkonsentrasi pada masalah ini. Pada saat ini, para ilmuwan telah berhasil melewati penolakan hiperakut dengan memanipulasi xenograft sistem endotel donor ekspresi protein komplemen hambat dan mengetuk gen untuk alfa-gal karbohidrat. Namun, perjuangan untuk sepenuhnya menghilang kan akut penolakan pembuluh darah masih tetap. Namun, karena keduanya kloning terapi dan teknologi sel batang meningkatkan, dapat diprediksi bahwa Xenotrans plantation akan menjadi lebih realistis layak. 
Hambatan lain untuk xenotransplantation termasuk kemungkinan penyakit "melompat" hambatan jenis dan menginfeksi manusia. Salah satu penye bab seperti reservasi adalah sekelompok agen infeksius dikenal sebagai babi Endo gonous Retrovirus (perv). Kemungkinan ini telah melakukan banyak untuk mengu rangi antusiasme dalam investigasi xenotransplantation sebagai alternatif untuk transplantasiorgan allogeneic.                             


2.5. Aspek Medikolegal Transpalantasi Organ
          Sebelum transplantasi organ dilakukan, beberapa aspek yang perlu ditinjau adalah aspek etik, hukum, dan agama (Etikomedikolegal transplantasi).
Menurut segi hukum, tranplantasi organ, jaringan dan sel tubuh dipan dang sebagai tindakan mulia dalam upaya menyehatkan dan mensejahterakan ma nusia, walaupun ini tindakan ini melawan hukum pidana yaitu tindak pidana penga niayaan. Tetapi karena adanya alasan pengecualian hukuman, atau paham melawan hukum secara material, maka perbuatan tersebut tidak lagi diancam pidana, dan da pat dibenarkan .
Menurut segi etik, transplantasi merupakan upaya terakhir untuk meno long seorang pasien dengan kegagalan fungsi salah satu organ tubuhnya. Tindakan ini wajib dilakukan apabila ada indikasi, berdasarkan beberapa pasal dalam KODEKI yaitu pasal 2, pasal 7D, dan pasal 11.
Berdasarkan UU No. 23 tahun 1992, tentang kesehatan, transplantasi adalah Tindakan medis untuk memindahkan oragan dan atau jaringan tubuh manu sia yang berasal dari tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk mengganti jaringan dan atau jaringan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.
Donor adalah orang yang menyumbangkan alat atau jaringan tubuhnya kepada orang dengan tujuan kesehatan. Sebelum melakukan transpalantasi organ atau jaringan tubuh, seseorang yang memutuskan menjadi donor harus mengetahui

dan mengerti resiko yang dihadapi, baik resiko di bidang medis, pembedahan maupun resiko kehidupan lebih lanjut sebagai kekurangan jaringan atau organ yang telah di pindahkan.

Bagi mereka yang donor jenazah sebelum pengambilan organ, yang harus diperlukan adalah Informed Consent yang dalam hal ini didapatkan dari ahli waris. Jika tidak diketahui identitasnya ( Gelandangan,pengemis/GEPENG), maka jenazah tersebut dianggap milik negara sehingga dokter forensik dapat mengambil oragan dan jaringan tubuh untuk kemudian diserahkan kepada Bank Organ dan Jaringan Tubuh.
Di Indonesia, penegakan hukum tentang transplantasi masih sulit ditegakkan. Karena UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan dan peraturan pemerintah No. 18 tahun 1981 tentang : Bedah mayat Anatomis serta transplantasi alat atau jaringan tubuh manusia tidak memuat batasan yang jelas.
Komersialisme organ dan atau jaringan tubuh manusia merupakan tindakan pidana yang bersifat delik biasa sehingga penyidik berwenang melakukan penyidikan meskipun tanpa laporan masyarakat.
2.6. Mekanisme Penolakan Transplantasi Organ / Graft PENOLAKAN
Penolakan transplantasi organ adalah penghalang utama saat ini. Terjadi oleh sel T helper (Saat ini disebut CD4+) resipien yang mengenal antigen MHC allogenic. Sel T helper merangsang sel Tc (T citotoxic atau CD8+) mengenal antigen MHC allogenic untuk membunuh sel sasaran. Sel T helper melalui Limfokin menyebabkan Makrofag dikerahkan akibatnya kerusakan jaringan target. Reaksi yang terjadi mirip dengan Hipersensitivitas tipe IV (Gell dan Coombs), membunuh sel sasaran. Kemungkinan lain juga bahwa makrofag dikerahkan ke tempat tandur atas pengaruh limfokin dari sel Th sehingga menimbul kan kerusakan. Setelah penolakan graft telah dimulai, dapat digolongkan dalam salah satu dari tiga cara pada manusia, baik penolakan hiperakut, penolakan akut, atau penolakan kronis. Kategorisasi ini didasarkan pada seberapa cepat terjadi penolakan. Dalam xenotransplantion , ada tipe keempat diklasifikasikan sebagai penolakan hiperakut vaskular.
1.      Penolakan hiperakut
Hiperakut penolakan terjadi biasanya dalam 24 jam pertama setelah transplantasi. ini. Disebabkan oleh destruksi oleh antibodi yang sudah ada pada

resipien akibat transplantasi/transfusi darah atau kehamilan sebelumnya. Antibodi mengaktifkan komplemen yang menimbulkan edem dan perdarahan interstitial dalam jaringan tandur sehingga mengurangi aliran darah ke seluruh jaringan.
 2.      Penolakan Akut
penolakan akut biasanya dimulai setelah minggu pertama transplantasi, dan kemungkinan besar terjadi pada tingkat tertentu dalam semua transplantasi (kecuali kembar betweenidentical). Hal ini disebabkan oleh antigen HLA tidak cocok yang hadir di semua sel. Antigen HLA adalah polimorfik sehingga kesempatan dari pertandingan yang sempurna sangat jarang. Alasan penolakan
akut yang terjadi satu minggu setelah transplantasi adalah karena T-selterlibat dalam penolakan harus membedakan dan antibodi dalam menanggapi allograft harus diproduksi sebelum penolakan dimulai. T-sel ini menyebabkan sel gratifikasi untuk pelet atau menghasilkan sitokinyang merekrut sel-sel inflamasi lain, akhirnya menyebabkan nekrosis jaringan allograft. Sel endotel dalam

vascularized cangkokan seperti ginjal adalah sebagian dari korban awal penolakan akut. Kerusakan pada lapisan endotel merupakan prediktor awal kegagalan graft akut ireversibel. Risiko penolakan akut atau tertinggi dalam 3
bulan pertama setelah transplantasi, dan diturunkan oleh agen imuno supresif da lam terapi pemeliharaan. 
3.      Penolakan kronis
Penolakan kronik: hilangnya fungsi organ yang dicangkokkan secara perlahan beberapa bulan setelah berfungsi normal. Disebabkan oleh sensitivitas yang tim bul terhadap antigen tandur karena timbulnya intoleransi terhadap sel T, terka dang juga diakibatkan sesudah pemberian imunosupresan dihentikan.
penolakan kronis adalah jenis ketiga penolakan dan terjadi bulan sampai tahun setelah transplantasi.
Ini  ditandai oleh oklusi arteri graft, yang hasil dari prolife rasi sel otot polos dan produksi kolagen oleh fibroblast. Proses ini, disebut arte riosclerosis dipercepat atau cangkok, hasil di fibrosis yang dapat menyebabkan iskemia dan kematian sel. Berserat lesi ini terjadi tanpa bukti penyebab terbuka (seperti cedera vaskular atau infeksi), meskipun hipotesis bahwa penolakan kro nis benar-benar hasil dari beberapa lanjutan penolakan akut berkepanjangan. Hipotesa ini didasarkan pada pengetahuan bahwa fibrosis yang dihasilkan mirip dengan fibrosis yang menyertai penyembuhan alami luka.
Sekarang bahwa ada pengobatan untuk penolakan akut, penolakan kronis meru pakan penyebab utama dari rusaknya jaringan tandur. Kebanyakan peneri ma harus mengambil obat imunosupresif untuk sisa hidup mereka, dan bahkan ya ng mungkin tidak cukup untuk melawan penolakan kronis. Hal ini menimbul kan dilema dalam kecenderungan immunotherapy, karena imunosupresi sangat
difokuskan untuk mencegah penolakan akut dan tidak substansial pengobatan mekanisme penolakan kronis. Oleh karena itu, terapi alternatif seperti teknik jaringan, toleransi, dan mencoba untuk memotong xenotransplantation bahaya penolakan kronisdan penolakan secara keseluruhan. 


4.      Akut Vascular Penolakan

Penolakan akut vaskular ditemukan selama transplantasi xenografts . Meskipun penolakan awal hiperakut dihindari dalam sumbang spesies melalui transgenik dan melumpuhkan teknik rekombinasi gen, penolakan akut pembuluh darah masih terjadi 4-8 hari setelah transplantasi. bentuk penolakan ini ditandai dengan aktivasi endotel dan koagulasi, menyebabkan kerusakan sel, trombosis dan penolakan graft akhirnya. Walaupun terjadi lebih lambat dibandingkan dengan penolakan hiperakut, hasil akhir dari kegagalan transplantasi adalah sama. Ini juga tidak jelas, apakah melengkapi merupakan bagian dari jalur vaskular penolakan akut. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa hal itu disebabkan oleh kembali atau antibodi anti-alpha-gal sisa, dimana target-gadis antigen alfa ditemukan pada babi dan spesies lainnya. vaskular penolakan akut adalah hambatan utama untuk xenografts, dan penelitian ini mencoba untuk menghindari ini fenomena baru dari penolakan, namun saat ini bahkan dengan immunosupression berat, babi paling primata grafts gagal dalam waktu tiga puluh hari karena penolakan vascular akut.               
Reaksi penolakan pada transplantasi diperankan oleh sel Th yang kemudian merangsang sel Tc dan mekanisme imunitas humoral (antibodi), yang kemudian bekerja dengan tujuan destruksi sel sasaran. Selain itu makrofag seba gai imunitas nonspesifik juga berperan dalam proses destruksi. Sel imun resi pien bekerja menolak antigen donor, sebaliknya, sel imun donor juga menolak antigen resipien. Pada intinya, penolakan terjadi dari dua belah pihak, baik resipien maupun donor.
Faktor penyebab imunodefisiensi secara umum adalah kelainan genetika dan defek kromosom yang menyebabkan imunodefisiensi primer, berbagai keadaan tertentu seperti kehamilan, usia lanjut, dan usia tahun pertama yang mengakibatkan imunodefisiensi fisiologis, dan malnutrisi, infeksi, obat-obatan, dan penyinaran, yang mengakibatkan imunodefisiensi sekunder/didapat. Pada transplantasi pasien gagal ginjal contohnya,gangguan filtrasi menyebabkan ter buangnya protein, yang dibutuhkan sebagai bahan untuk membuat antibodi. Ketiadaan bahan ini menyebabkan defisiensi antibodi, yang menyebabkan pertahanan melemah. Diet pada pasien gagal ginjal juga merupakan salah satu

faktor penyebab imunodefisiensi, karena pasien yang gagal ginjal biasanya diberikan diet rendah protein agar kerja filtrasi ginjal tidak terlalu berat. Padahal, protein dibutuhkan untuk pembentukan antibodi. Konsekuensi dari defisiensi protein adalah defisiensi antibodi, sehingga terjadi imunodefisiensi. Sedangkan efek terapi juga dapat menimbulkan imunodefisiensi. Hal ini timbul akibat pemakaian obat-obatan untuk terapi gagal ginjal yang mempunyai sifat imunonosupresif, misalnya kortikosteroid. Mekanisme imunosupresan sendiri antara lain menghambat respon imun primer, seperti pengolahan antigen oleh APC, sintesis limfokin, dan proliferasi dan diferensiasi sel imun. Karena itu, pada pasien transplantasi organ, untuk meminimalisir reaksi penolakan, digunakan obat-obatan imunosupresan.
Kegagalan imunisasi dapat terjadi akibat imunodefisiensi. Imunisasi berdasar pada mekanisme “latihan” terhadap antigen yang masuk. Apabila pada saat “latihan” saja sistem imun telah mengalami defisiensi, sangat mungkin sekali pada saat infeksi antigen yang sebenarnya (virus atau bakteri yang sebe narnya dan tidak dilemahkan atau dimatikan) sistem imun tidak dapat menghadapi antigen tersebut dengan baik.
Reaksi dan komplikasi dari transfusi dapat berupa reaksi hemolitik, reaksi panas atau demam, dan reaksi alergi. Pada pasien, reaksi yang berupa gatal-gatal dan sesak nafas adalah mekanisme alergi yang merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I, yaitu reaksi anafilaksis dengan perantara IgE. Gatal adalah efek penekanan saraf oleh histamin, sedangkan pada bronkus, histamin menyebabkan bronkokonstriksi sehingga timbul gejala sesak nafas.

2.7. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan defisiensi imun sekunder
obat imunosupresif

2.8. Terapi Imunosupresif ( Imunosupresif AGEN )
Pada tahun 1978, obat imunosupresif Siklosporin diperkenalkan dan masalah penolakan sebagian besar diatasi.
Bahkan, transplantasi organ sekarang banyak prosedur klinis rutin - transplantasi ginjal adalah contoh utama, dengan 15.122 prosedur dilakukan

pada tahun 2003. terapi transplantasi organ sangat tergantung pada keberhasilan farmakoterapi untuk menekan respon imun penerima pada organ asing; penolakan allograft tetap sebagai penghalang utama untuk kelangsungan hidup jangka-panjang graft pada pasien. Bahkan, transplantasi pasien memerlukan terapi imunosupresif obat seumur hidup untuk mencegah penolakan ini.
Meskipun kemajuan ini glamor, penting untuk diingat mekanisme imunosupresi belakang: immunosuppressants mengurangi's sistem kekebalan tubuh. Dengan terapi saat ini, ada efek samping yang merugikan yang mencakup, antara lain, insiden tinggi infeksi oportunistik dan keganasan terkait transplantasi pada pasien. Ini adalah konsekuensi yang tidak menguntungkan dari overimmunosuppression. Dengan demikian, tujuan utama adalah untuk mengidentifikasi imunosupresi keseimbangan optimal terapi seperti yang ada pencegahan yang efektif dari penolakan allograft, sedangkan terkait efek-efek samping obat, infeksi, dan keganasan dapat diminimalkan. Karena kompromi ini adalah sebagian besar tidak memuaskan, ada konstan mencari lebih efektif dan spesifik agen imunosupresif dan strategi.
Lima kategori dasar agen imunosupresif digunakan dalam transplan tasi organ: corticosteriods , inhibitor calcineurine , agen antiproliferative  , antilymphocyte antibodi monoklonal ,dan antibodi poliklonal antily mphocyte.  Setiap jenis bekerja untuk memblokir langkah tertentu penolakan. Juga termasuk adalah halaman tentang kemanjuran obat danefek samping


2.9. Macam obat Imunosupresan, Indikasi dan Side Efek                     

2.9.1. Kortikosteroid

Prednisone
Perwakilan Contoh:
PrednisoneDeltasone ® ), MethylprednisoloneSoluMedrol ® )
Penggunaan Klinis:
Corticosteriods imunosupresi digunakan dalam perawatan, dan pengo batan penolakan akut.








Mekanisme farmakologis:
Kortikosteroid adalah obat berbasis glukokortikoid yang bekerja terutama untuk blok sel T dan APC berasal sitokin dan reseptor sitokin ekspresi. Unsur-unsur utama diblokir adalah IL-1 dan IL-6. Efek Sekunder corticosteriods termasuk pemblokiran IL-2, INF-gamma, dan TNF-alpha. Unsur-unsur, terutama IL-1, sangat penting untuk limfosit-APC-komunikasi penurunan produksi secara efektif menghalangi sebuah's APC untuk mengaktifkan kapasitas-spesifik limfosit allograft. Akibatnya, ancaman penolakan akut berkurang. Kortikosteroid memiliki struktur hidrofobik yang memungkinkan mereka untuk dengan mudah menyebar ke dalam sel dan menempel pada reseptor sitoplasma tertentu. Kemajuan kompleks menghasilkan inti, di mana mereka mampu menghambat transkripsi gen sitokin yang disebutkan di atas. Kortikosteroid juga dapat menghambat produksi sitokin dalam makrofag. Hal ini kemudian menghambat fagositosis makrofag dan properti chemotaxis. Kortikosteroid juga kuat-inflamasi agen-spesifik anti non - administrasi kortikosteroid menghasilkan pengurangan akut sirkulasi limfosit dan monosit.






Side Effects:
Efek samping diamati dengan menggunakan kortikosteroid termasuk:
F  hipertensi
F  hiperlipidemia
F  osteoporosis
F  berat badan
F  tampilan cushingoid
F  infeksi oportunistik
F  glaukoma
F  pembentukan ulkus
F  hiperglikemia (biasanya maju untuk diabetes steroid)





Perwakilan Dosis / Rute:
Corticosteriods dapat digunakan untuk mencegah, serta untuk mengobati penolakan akut. Lisan, serta rute intravena umum digunakan.
Dosis tinggi methylprednisolone intravena biasanya diberikan segera sebelum dan selama prosedur transplantasi. Methylprednisolone atau prednison sering lanjutan pasca dioperasi selama beberapa hari pada dosis tinggi, dan kemudian meruncing ke dosis pemeliharaan. Dosis dan jadwal lancip bervariasi dengan organ yang ditransplantasikan. Dosis Pemeliharaan terdiri dari prednison diberikan secara lisan, dan biasanya 50-10 mg / hari

2.9.2. CALCINEURINE inhibitor
A) Siklosporin
Perwakilan Contoh:
SiklosporinSandimmune ® ® Neoral Gengraf ® ) Tacrolimus Prograf ® FK506 )
Penggunaan Klinis:
Inhibitor Calcineurine digunakan dalam pemeliharaan imunosupresi.

Mekanisme Umum:
Mekanisme bertemu Inhibitor Calcineurine pada penghambatan calcineurin tersebut. hambatan ini akhirnya menghambat produksi dan sekresi IL-2. Interaksi antara IL-2 dan IL-2 Lubangsangat penting dalam aktivasi dan diferensiasi sel B dan T. Oleh karena itu, menghentikan proses penolakan pada langkah ini sangat efektif untuk memerangi penolakan.


Mekanisme farmakologis:
Siklosporin adalah peptida siklik jamur kecil yang digunakan untuk mencegah penolakan allograft. Siklosporin bekerja dengan mengikat protein yang ditemukan di sitosol: cyclophilin. kompleks ini menghambat calcineurin. Sisanya mekanisme ini dijelaskan di atas. Siklosporin adalah immunsuppressant sangat efektif. Bahkan, siklosporin umumnya dipuji sebagai landasan imunosupresi. Pengenalan klinis Siklosporin meningkat secara signifikan kelangsungan hidup korupsi dan secara signifikan mengurangi terjadinya penolakan akut pada pasien.







Side Effects:
Efek samping diamati dengan penggunaan siklosporin meliputi:
  • nephrotoxicity (memperbaiki bila obat dihentikan)
  • hipertensi
  • getaran
  • Penyakit arteri koroner (dosis terkait dan reversibel)
  • hirsutisme
  • gingival hiperplasia
  • infeksi oportunistik
  • keganasan
  • hyperuricemia
  • hepatoxicity
  • hypertricosis
Perwakilan Dosis / Rute:
Siklosporin tersedia dalam bentuk emulsi dan mikro-emulsi.
dosis Pemeliharaan terdiri dari siklosporin diberikan secara lisan, biasanya 5-10 mg / kg / hari diberikan dalam dua dosis. Ini biasanya diambil bersama dengan agen antiproliferative dan prednison sebagai bagian dari regimen imunosupresi. solusi Intravena juga ada, dengan hanya sepertiga dari dosis oral diperlukan untuk formulir ini.



B ). Tacrolimus

Mekanisme farmakologis:
Tacrolimus adalah microlide antibiotik yang bekerja dalam mekanisme yang sama dengan siklosporin untuk mencegah penolakan allograft. Tacrolimus mengikat protein sitosol FKPB-121. Kompleks ini menghambat calcineurin dalam secara paralel untuk siklosporin.





Side Effects:
Efek samping diamati dengan menggunakan tacrolimus meliputi:
  • nephrotoxicity (memperbaiki bila obat dihentikan)
  • hipertensi
  • hiperkalemia
  • hypomagnesemia
  • alopecia
  • hiperglikemia
  • infeksi oportunistik
  • keganasan
Perwakilan Dosis / Rute:
Tacrolimus tersedia dalam pil oral. Dosis pemeliharaan biasanya 0,15-0,3 mg / kg / hari diberikan dalam dua dosis. Ada juga bentuk infus yang tersedia, dosis yang biasanya 0,03 mg / kg intravena selama 24 jam.
2.9.3. ANTIPROLIFERATIVE AGEN
 A ). Azathioprine
Perwakilan Contoh:
Mycophenolate Mofetil® CellCept ), AzathioprineImuran ® ),  Sirolimus  Rapa mune ® )
Penggunaan Klinis:
Agen Antiproliferative digunakan dalam perawatan dan pengobatan imunosupresi penolakan.
Mekanisme Umum:
Agen Antiproliferative obat yang bekerja untuk memblokir fase proliferasi penolakan selular akut. Mereka merupakan bagian integral dari regimen imunosupresi paling.
                                       B). Mycophenolate Mofetil


Mekanisme farmakologis:
Mycophenolate Mofetil (MMF) diserap dan cepat terhidrolisis dalam darah untuk membentuk aktif: MPA. MPA menghambat enzim kunci pada jalur novo de biosintesis purin, IMPDH1,. Dengan cepat membagi sel, seperti aktif sebagai limfosit tergantung pada de novo jalur fatau produksi purin yang diperlukan untuk RNA dan sintesis DNA. Dengan cara ini, limfosit diaktifkan secara selektif terhambat karena mereka tidak diizinkan untuk berkembang biak sekali diaktifkan.






Side Effects:
Efek samping diamati dengan menggunakan MMF meliputi:
  • leukopenia
  • trombositopenia
  • mual
  • infeksi oportunistik
  • keganasan
  • gangguan pencernaan
Perwakilan Dosis / Rute:
MMF biasanya diambil secara lisan, 1-1,5 g dua kali sehari. Formulir intravena juga tersedia.
C ). Azathioprine
Mekanisme farmakologis:
Azathioprine dengan cepat terhidrolisis dalam darah untuk 6-mercaptopurine. Dalam bentuk (suatu analog purin dan antimetabolit), itu memasukkan ke dalam DNA, sintesis nukleotida menghambat dengan menyebabkan inhibisi umpan balik pada tahap awal dari metabolisme purin. Ini akhirnya mencegah mitosis dan proliferasi cepat membagi sel, seperti B dan limfosit T diaktivasi. Melalui tindakan ini, Azathioprine mampu memblok paling-fungsi sel T dan menghambat sintesis antibodi primer. Azathioprine memiliki pengaruh yang kecil pada respon imun didirikan, dan karena itu hanya efektif dalam pencegahan (bukan pengobatan) penolakan akut.
Side Effects:
Efek samping diamati dengan menggunakan Azathioprine meliputi:
  • penipisan tulang sumsum / penekanan
  • trombositopenia
  • anemia
  • Pankreatitis
  • hepatoxicity
  • neoplasia
Perwakilan Dosis / Rute:
Azathioprine biasanya diambil secara lisan, dengan kecepatan 1-2 mg / kg / hari. Formulir intravena juga tersedia. Azathioprine digunakan sebagai bagian dari regimen imunosupresi tiga, bersama dengan prednison dan inhibitor calcineurin.



D). Sirolimus
Mekanisme farmakologis:
Sirolimus adalah antibiotik yang sangat ampuh macrolide yang memiliki struktur kimia yang mirip dengan tacrolimus. Sirolimus mengikat protein yang sama seperti tacrolimus: FKBP-12. Alih-alih Calcineurin menghambat sebagai tacrolimus tidak, kompleks ini menghambat mTOR. inhibisi ini mencegah perkembangan sel T dari G1 ke fase S dari siklus sel dengan menghalangi sinyal hilir IL-2 reseptor. Oleh karena itu mampu memblok DTHreaksi kekebalan tubuh, CTLaktivitas, dan tanggapan humoral diarahkan terhadap organ transplantasi. Karena Siklosporin dan Sirolimus memiliki mekanisme yang berbeda, kombinasi dari kombinasi klinis dari dua rejimen hasil imunosupresi dalam efek yang sinergis. Obat ini sedang dalam uji coba klinis Fase III untuk transplantasi ginjal.
Side Effects:
Efek samping diamati dengan menggunakan Sirolimus meliputi:
  • leukopenia
  • trombositopenia
  • hiperkolesterolemia
  • hipertrigliseridemia
Perwakilan Dosis / Rute:
Sirolimus diambil secara lisan, dengan tarif yang disarankan antara 2-5 mg sekali sehari.

2.9.4. Antibodi monoklonal

 Muromonab-CD3

Perwakilan Contoh:
Muromonab-CD3 Orthoclone OKT3 ® ), Interleukin-2 reseptor antagonis Basiliximab, ® Simulect ), Daclizumab ( Zenapax ® )
Penggunaan Klinis:
Antibodi monoklonal digunakan dalam profilaksis penolakan awal dan pengobatan penolakan.



Mekanisme Umum:
antibodi monoklonal yang spesifik immunosuppressants antigen yang akan mengurangi respon kekebalan terhadap alloantigens dari gratifikasi tersebut sambil menjaga respon terhadap alloantigens untuk antigen yang tidak terkait. Agen ini secara khusus digunakan untuk memblokir aktivasi T-sel, yang mengakibatkan penurunan produksi sel T dari peredaran oleh pengikatan antibodi sel T dilapisi dengan reseptor Fc pada sel fagosit. Yang paling baru-baru ini disetujui FDA adalah monoklonal antibodi IL-2 reseptor antagonis rekayasa genetika untuk memiliki baik manusia dan murin urutan antibodi. The chimerization antibodi ini merupakan upaya untuk mengurangi imunogenisitas dari agen. Lain-obat antibodi monoklonal berdasarkan masih dalam uji klinis untuk persetujuan FDA.
A ). Muromonab-CD3
Mekanisme farmakologis:
Muromonab-CD3 adalah jenis pertama dari antibodi monoklonal murine diarahkan terhadap epsilon rantai molekul CD3 (merupakan bagian integral dari T Cell Receptor kompleks) dan memodulasi reseptor dan inactivates-fungsi sel T memblokir kedua sel T naif dan CTLs. Hal ini menyebabkan penurunan produksi sel T dari peredaran dan pelepasan sitokin. antibodi ini digunakan untuk mengobati penolakan akut dan penolakan resisten steroid. Beberapa dampak buruk yang parah akibat Muromonab-CD3 dianggap produk dari pelepasan sitokin yang melekat dalam mekanisme agen khasiat.
Side Effects:
Efek samping diamati dengan menggunakan CD3-Muromonab meliputi:
  • sindrom klinis akut (sindrom pelepasan sitokin) setelah beberapa dosis pertama
  • aseptik meningitis
  • infeksi oportunistik
  • limfoma (tanpa siklosporin, limfoma tidak ada)
  • keganasan
  • reaksi hipersensitivitas
  • Hama reaksi
Perwakilan Dosis / Rute:
Dosis yang direkomendasikan untuk Muromonab-CD3 adalah 5 mg IV push sekali sehari selama 7-14 hari.


B ). Interleukin-2 reseptor antagonis (Basiliximab)
Mekanisme farmakologis:
Basiliximab (Simulect ®) adalah chimeric (70% manusia dan 30% murin) antibodi monoklonal digunakan dalam pencegahan penolakan organ akut. Antibodi monoklonal ini memiliki spesifisitas dan afinitas tinggi untuk subunit a dari interleukin (IL) -2 reseptor (IL-2Ra, juga dikenal sebagai CD25 atau Tac) mencegah IL-2 dari mengikat ke reseptor pada permukaan sel T aktif . Dengan bertindak sebagai antagonis IL-2Ra, Basiliximab menghambat-2-mediated IL aktivasi dan proliferasi sel T, langkah penting dalam kaskade respon imun seluler penolakan allograft. Oleh karena itu, Basiliximab memiliki seumur hidup setengah dari sekitar 7-12 hari dan jenuh dengan reseptor IL-2 sampai 59 hari. Karena persentase yang tinggi dari antibodi yang humanisasi dalam urutan kejadian dan ketajaman efek samping secara signifikan lebih rendah bila digunakan dengan immunotherapy standar.
Side Effects:
Efek samping diamati dengan DI-2 menggunakan antagonis reseptor meliputi:
  • gangguan pencernaan
  • tampaknya tidak meningkatkan kejadian infeksi oportunistik atau keganasan
* Sejak immunosuppressant ini digunakan dalam kombinasi dengan terapi lain, dapat diasumsikan bahwa efek sisi lain ada efek samping ** tambahan khusus untuk obat ini tidak diketahui karena fakta bahwa obat ini masih menjalani uji klinis
Perwakilan Dosis / Rute:
Dosis yang dianjurkan adalah 20 mg Basiliximab IV 2 jam sebelum transplantasi dan 20 mg 4 hari setelah operasi transplantasi. immunosuppressant ini diberikan sebagai bagian dari rejimen immunotherapeutic.
C ). Daclizumab

Mekanisme farmakologis:
Daclizumab adalah agen sama seperti Basiliximab, tetapi lebih manusiawi IgG antibodi monoklonal (90% manusia dan 10% murin). Hal ini juga mengikat dan menghambat a-subunit reseptor IL-2. Daclizumab memiliki waktu paruh sekitar 20 hari dan jenuh dengan reseptor IL-2 sampai 120 hari (dua kali selama Basiliximab).



Side Effects:
Efek samping diamati dengan DI-2 menggunakan antagonis reseptor meliputi:
  • gangguan pencernaan
  • tampaknya tidak meningkatkan kejadian infeksi oportunistik atau keganasan
* Sejak immunosuppressant ini digunakan dalam kombinasi dengan terapi lain, dapat diasumsikan bahwa efek sisi lain ada efek samping ** tambahan khusus untuk obat ini tidak diketahui karena fakta bahwa obat ini masih menjalani uji klinis
Perwakilan Dosis / Rute:
Daclizumab diberikan sebagai bagian dari terapi immunosuppressant di tempat. Dosis pertama adalah 1 mg / kg IVgiven sekitar dioperasi dan kemudian setiap 14 hari selama empat dosis lebih.


2.9.5.  A). Antibodi poliklonal

Perwakilan Contoh:
Antithymocyte globulin-kudaAtgam ® ), Antithymocyte globulin-kelinci(RATG, ® Thymoglobulin )
Penggunaan Klinis:
Awal penolakan profilaksis, pengobatan penolakan.


Mekanisme Umum:
antibodi poliklonal diarahkan terhadap antigen limfosit tetapi bukannya kekhususan-tunggal dari antibodi monoklonal, antibodi ini anitlymphocyte diarahkan terhadap beberapa epitop. Para agen digunakan dalam terapi induksi dan dapat diberikan untuk menghindari efek nefrotoksik inhibitor calcineurin dan menunda atau mencegah sokongan dari allograft tersebut.


B ). Antithymocyte globulin-kuda dan Antithymocyte globulin-kelinci
Mekanisme farmakologis:
globulin Antithymocyte adalah antibodi poliklonal berasal dari salah satu kuda (Atgam ®) atau kelinci (Thymoglobulin ®). Para agen berisi antibodi spesifik untuk umum banyak sel T antigen termasuk CD2, CD3 CD4, CD8, CD11a, CD18. The antithymocyte mengikat globulin limfosit yang menampilkan antigen permukaan sebelumnya tercatat. Ini efektif menghabiskannya konsentrasi sel T dalam tubuh melalui bergantung sitolisis komplemen dan sel opsonization dimediasi (define di bagian penolakan atau glossary) berikut dengan clearance sel T dari sirkulasi oleh retikuloendotelial sistem (RES).






Side Effects:
Efek samping diamati dengan menggunakan globulin Antithymocyte meliputi:
  • leukopenia
  • serum penyakit (reaktivitas silang dengan antigen jaringan lainnya)
  • negatif mempengaruhi kemampuan pasien untuk membuat antibodi terhadap protein asing
  • trombositopenia
  • gatal
  • demam
  • arthralgias
  • infeksi oportunistik
  • keganasan
Perwakilan Dosis / Rute:
globulin Antitthymocyte dapat menjadi bagian dari terapi induksi atau perlakuan penolakan akut. Dosis yang dianjurkan Atgam ® adalah 10-20 mg / kg / hari diberikan harian melalui dan IV sampai 14 hari. Dosis yang dianjurkan Thymoglobulin ® adalah 1.5mg/kg adiminstered harian melalui infus untuk 7-14 hari.
Kelemahan:
Kelemahan dari menggunakan antibodi poliklonal termasuk ketidakpastian, variabel efikasi dan efek samping (peningkatan risiko infeksi,-proliferasi penyakit lympho karena over-immunosupression - ini tidak spesifik)


Hal ini jelas dari tabel di atas ini bahwa ada banyak efek samping yang terkait dengan obat-obatan immunosuppressant. Di antara yang paling penting dari efek samping ini adalah infeksi oportunistik dan keganasan yang berhubungan dengan transplantasi. Banyak dari efek samping sebagian karena sistem kekebalan tubuh yang lemah dari penerima transplantasi. Karena jumlah redundansi yang tinggi dalam sel-sel kekebalan, immunosuppressants, yang bertujuan untuk mengurangi penolakan kekebalan dari transplantasi, sengaja cacat kemampuan sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan. Sistem kekebalan tubuh karena memiliki kapasitas penurunan untuk melindungi individu dari mikroorganisme dan sel kanker. efek samping lain disebabkan oleh interaksi obat yang tidak diinginkan dengan tubuh. Efek samping imunosupresi membuat sulit
bagi pasien, dan secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup, sebagai terapi immunosuppressant sering seumur hidup.
terkait keganasan Transplantasi adalah salah satu efek samping yang paling substansial yang terkait dengan terapi imunosupresif.
Besarnya keseluruhan efek samping karena immunosuppressants berfungsi untuk mengingatkan kita bahwa masih banyak kekurangan dalam immunosuppressants. Sementara mereka menjadi lebih dan lebih efektif dalam mencegah penolakan transplantasi, penelitian harus bertujuan menciptakan immunosuppressants yang semakin tepat untuk transplantasi kekebalan spesifik sel. Hal ini akan memungkinkan individu untuk menyingkirkan penolakan-memulai limfosit, sedangkan yang tidak mempengaruhi sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan. Penelitian yang sedang berjalan dengan antibodi monoklonal dan poliklonal berusaha untuk memenuhi tujuan tersebut, tetapi pendekatan imunosupresif baru menimbulkan komplikasi tak terduga. Sebagai contoh, Hama (manusia anti-murin Antibodi) reaksi telah disertai pengenalan banyak antibodi yang tersedia. Dalam reaksi ini, tubuh manusia mendeteksi murin (mouse) komponen antibodi dan menciptakan anti-mouse imunoglobulin spesifik untuk wilayah konstan antibodi. Hal ini mengakibatkan

sistem kekebalan's pasien membersihkan pengobatan potensial dari peredaran, sehingga rendering itu tidak efektif. Reaksi Hama berkembang dalam 10-14 hari pengobatan (terapi lain dapat menunda munculnya reaksi Hama), dan dilengkapi dengan pangsa efek samping. Pengelakan komplikasi ini termasuk memanusiakan (juga disebut sebagai chimerizing) antibodi dengan mengganti konstan kesulitan daerah ini mendukung manusia daerah lebih dapat diterima. Hal ini menghasilkan hasil yang lebih baik nyata, seperti dapat dilihat dari perkembangan dari 70% / 30% manusia: obat murin Muromonab-CD3 ke eksperimental 90% / 10% manusia: obat murin Basiliximab dan Daclizumab (keduanya saat ini dalam uji klinis).
Resolusi lain akan menjauh dari immunosuppressants sepenuhnya, baik melalui induksi toleransi, penggunaan transplantasi autographic diperoleh melalui teknik jaringan, terapi sel induk, atau rekayasa genetika xenotransplants. Pilihan ini, yang akan dibahas secara singkat di bagian lain website, saat ini tidak tersedia, namun mungkin aspirasi untuk masa depan dan sedang sangat diteliti. 
Besarnya keseluruhan efek samping karena immunosuppressants berfungsi untuk mengingatkan kita bahwa masih banyak kekurangan dalam immunosuppressants. Sementara mereka menjadi lebih dan lebih efektif dalam mencegah penolakan transplantasi, penelitian harus bertujuan menciptakan immunosuppressants yang semakin tepat untuk transplantasi kekebalan spesifik sel. Hal ini akan memungkinkan individu untuk menyingkirkan penolakan-memulai limfosit, sedangkan yang tidak mempengaruhi sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan. Penelitian yang sedang berjalan dengan antibodi monoklonal dan poliklonal berusaha untuk memenuhi tujuan tersebut, tetapi pendekatan imunosupresif baru menimbulkan komplikasi tak terduga. Sebagai contoh, Hama (manusia anti-murin Antibodi) reaksi telah disertai pengenalan banyak antibodi yang tersedia. Dalam reaksi ini, tubuh manusia mendeteksi murin (mouse) komponen antibodi dan menciptakan anti-mouse imunoglobulin spesifik untuk wilayah konstan antibodi. Hal ini mengakibatkan sistem kekebalan's pasien membersihkan pengobatan potensial dari peredaran, sehingga rendering itu tidak efektif. Reaksi Hama berkembang dalam 10-14 hari pengobatan (terapi lain dapat

menunda munculnya reaksi Hama), dan dilengkapi dengan pangsa efek samping. Pengelakan komplikasi ini termasuk memanusiakan (juga disebut sebagai chimerizing) antibodi dengan mengganti konstan kesulitan daerah ini mendukung manusia daerah lebih dapat diterima. Hal ini menghasilkan hasil yang lebih baik nyata, seperti dapat dilihat dari perkembangan dari 70% / 30% manusia: obat murin Muromonab-CD3 ke eksperimental 90% / 10% manusia: obat murin Basiliximab dan Daclizumab (keduanya saat ini dalam uji klinis).
Resolusi lain akan menjauh dari immunosuppressants sepenuhnya, baik melalui induksi toleransi, penggunaan transplantasi autographic diperoleh melalui teknik jaringan, terapi sel induk, atau rekayasa genetika xenotransplants.
2.10. MASALAH YANG MUNCUL PADA KLIEN POST OP TRANPLANTASI REJETION
           1. Cemas ( takut ) akan operasi transplantasi.
              2. Kurang pengetahuan klien akan penolakan transpalantasi.
            3. Kurang pengetahuan tentang perawatan luka di rumah,post op penolakan  tranplasi.
          4. Kurangnya pengertian klien tentang fungsi dan kegunaan obat imunosu presan.
2.11. DIAGNOSA PERAWATAN
a. Diagnosa Perawatan:
Cemas ( takut) akan operasi transplantasi
Tujuan:
Klien akan berhubungan takut kurang tentang penolakan


Intervensi:
Biarkan klien mengungkapkan seluruh isi hatinya dan keprihatinannya dalam
menghadapi operasi transplantasi ini.
Biarkan klien mengungkapkan harapan-harapannya yang realistis setelah
menjalani operasi transplantasi .
Sisihkan waktu untuk duduk dan berbicara dengan klien 
b. Diagnosa Perawatan:
Kurang pengetahuan klien berhubungan dengan perawatan di rumah post opera
si penolakan transplantasi ( tanda dan gejala penolakan transplantasi oragan ).
Kurangnya pengetahuan klien tentang fungsi dan efek samping dari obat imuno
sipresan
Tujuan:
Klien akan membahas tanda dan gejala penolakan.
Klien akan menunjukkan dan pemahaman tentang efek samping druds immuno
suppresive dan perubahan gaya hidup untuk beradaptasi dengan pengaruh
mereka
Intervensi:
Ajarkan klien dan keluarga tentang tanda-tanda penolakan dan infeksi
Ajarkan klien dan keluarga akibat mengkonsumsi obat-obatan immunosup presive

Ajarkan klien untuk melihat efek samping dan melaporkannya kepada dokter 
c. Diagnosa Perawatan:
Risiko infeksi yang berkaitan dengan kurang pengetahuan klien dalam perawtan
luka post oprasi penolakan transplantasi.
Tujuan:
Klien bisa mempratekkan cara perawatan luka post operasi dengan benar.
Klien akan bebas dari infeksi
Intervensi:
Ajarkan klien dan keluarga perawatan luka yang tepat
Ajarkan klien penting dari minum antibiotik seperti yang diperintahkan
Ajarkan klien untuk memakai masker setiap kali keluar di depan umum
Ajarkan klien penting rutin check up, termasuk tes skrining kanker 
Evaluasi:
Setiap tujuan harus dievaluasi untuk menentukan bagaimana hal itu telah
dipenuhi oleh klien


             
           


BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Transplantasi organ dapat menimbulkan penolakan, kecuali apabila molekul MHC antara donor dan resipien identik. Semakin mirip molekul MHC antara donor dan resipien, maka risiko terjadinya penolakan semakin kecil.Imunodefisiensi mempun yai tiga penyebab: kongenital (biasanya akibat faktor genetik), fisiologik, dan dida pat (biasanya akibat pengaruh dari luar).
Tidak semua orang dapat mendonorkan organnya (jantung, hati, ginjal, paru) kepada orang lain yang bukan dalam satu keluarga atau saudara sekandung, seayah dan seibu. Hal ini karena HLA dapat berbeda sehingga terjadi penolakan transplantasi.
Transplantasi yang paling cocok dengan saudara kembar identik, sedang kan dengan orang tua atau saudara seayah seibu masih ada penolakan bila HLA berbeda.Obat Imunosupressan hanya menekan sistem imun agar tidak terjadi reaksi penolakan, namun obat imunosupressan juga menekan imun secara keseluruhan dan ada yang bersifat nefrotoksik sehingga merusak ginjal.
Seiring dengan sangat minimnya pendonor organ, maka banyak yang mengunakan jalan pintas dengan membeli oragan dari orang yang belum diketahui kejelasannya ( kesehatan oragannya ). mengingat resikonya sangat besar dari transplantasi ini.
Jual beli oragan manusia adalah ILEGAL, dan bukan merupakan delik aduan dari pihak kepolisian, polisi tetap menyelidiki tanpan laporan masyarakat

B. SARAN
Pertimbangkan dan bicarakan dengan keluarga, dalam melakukan transplantasi. Transplantasi bukan satu-satunya obat dalam mengatasi masalah.
berdoalah kepada Tuhan karena dengan kesembuhan atas seijin dialah semuanya dapat terlaksana.

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

1.     Kuby J. Immunology, 5th Edition, NY: W.H. Freeman and Company, 1997.
2.     Abul A, Lichtman A, Pober J. Cellular and Molecular Immunology, 3rd edition. Philadelphia: W.B. Saunders Company, 1997.
3.     Divate SA. Cute renal allograft rejection: progress in understanding cellular and molecular mechanisms. J Postgrad Med 2002; 46:293-6
4.     Keith J, Kanwar B, Kernstine K, McLaughlin K, Everett J. Part II: Imunology. Topics in Thoracic Surgery 2002
5.     Hoerbelt R, Madsen JC. Feasibility of xeno-transplantation. Surgical Clinics of North America 2004; 84
6.     Ogata K, Platt JL. Cardiac Xenotransplantation: Future and Limitations. Cardiology 2004; 101:144-158
7.     Rubin RH, Ikonen T, Gummert JF, Morris RE. The therapeutic prescription for the organ transplant recipient: the linkage of immunosuppression and antimicrobial strategies. Transpl Infect Dis 1999; 1:29-39
8.     Chapman TM, Keating GM. Basiliximab: A review of its use as an indication therapy in renal transplantation. Drugs 2003; 63(24): 2803-2835
9.     Mueller XM. Drug immunosuppression therapy for adult heart transplantation. Part 1: Immune response to allograft and mechanism of action of immunosuppressants. Ann Thorac Surg 2004;77:354-62
 
10. Mueller XM. Drug immunosuppression therapy for adult heart transplantation. Part 2: Clinical applications and results. Ann Thorac Surg 2004; 77:363-71
11. Quan DJ. Pharmacotherapy of solid organ transplantation. Cjhp 2003
12. Lake KD, Chadoff L. Solid Organ Transplantation. In concepts in immunology and immunotherapeutics. American society of health-system pharmacists, 1997;149-221
13. Kahan BD, Welsh M, Schoenberg L. Variable oral absorption of cyclosporine. A biopharmaceutical risk factor for chronic renal allograft rejection. Transplantation 1996; 62:599-606
14. Russel ME. Cellular and molecular mechanisms of chronic rejection. Encuentro del Cono Sur de las Sociedades de Trasplantes 1996; 2
15. Thomas E Starzl Transplantation Institute http://www.sti.upmc.edu /STI_patient_web/sti/home.asp
16. WEBScape (from WebMD) http://www.medscape.com
17. US Transplant Organization (Scientific Registry of Transplant Recipients)http://www.ustransplant.org
18. Novartis Transplant.http://www.novartis.com or http://www.novartis-transplant.com/medpro/symposia/immunology_of_transplant_section/immuno-suppresive_medication.jsp
19. Expert Reviews in Molecular Medicine http://www-ermm .cbcu. cam. ac.uk
20. The University of Oxford Clinical School.http://www.jr2.ox.ac.uk
21. Haverford University - The Biology of Transplantation
http://www.haverford.edu/biology/HHMI/Transplantation/biology.html
22. University of Minnesota - International Pancreas Transplant Regis try.http://www.iptr.umn.edu
23.  Undang-undang kesehatan No.23, tahun 1992, tentan: Kesehatan
24.  Teresa L “Nilai Etika Transplanplantasi organ “ http://www.maranta.com/ trans plantasi.
25.  Suprapti ,S.R. “Etika Kedokteran Indonesia Transplantasi .” edisi 2. yayasan  Bina Pustaka.
26.  Hanafiah, M. Jusuf. Amir, Amri. 1999. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta: EGC
27.  Susalit, Endang. 2007. Transplantasi Ginjal dalam Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
28.  Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11
 
Jakarta: EGC.
 
29.  . KH Ma’ruf Amin: Jual Beli Organ Haram Hukumnya. Diakses dari http://forum35.wordpress.com/2007/10/08/kh-maruf-amin-ketua-fatwa-mui-jual-beli-organ-haram-hukumnya.
30.  Baratawidjaja, Karnen G. 2006. Imunologi Dasar Edisi Ke Tujuh. Jakarta: Balai
 
Penerbit FKUI.
 
31.  Nursing Dx for client with organ transplantation rejections By : lois white, gena Duncan Medical-surgical nursing : an integral approach
32.  Triana N. “Menengok Transplantasi Organ di Cina”. http:// www.jurnalnasional com.